Senin, 24 November 2014

ARJUNA (Volume 1)

CERITA INI SUDAH GAGAL TOTAL
SAYA BERUSAHA UNTUK MEMBUATNYA KEMBALI
JADI TUNGGU SAJA



 

Cover and Art by Anggra
 Story by Salam Nobodyknows (16/03/2012)

================================================================================

Chapter 1 : Menikmati Alam (OST Bondan ft. Fade 2 Black – UNITY)

Ditaman yang Asri, dimana angin berdesiran menghembuskan kehangatannya, pohon-pohon bergoyang dengan alunan kicauan para burung yang merdu, Sigma sedang duduk di sebuah kursi kayu yang panjang, dia berkata,“Akhirnya aku bisa merasakan udara ini…, tetapi apakah ini dapat terus terjadi?”
Sambil melambaikan tangannya ke langit, dia berkata, “jika kekacauan terjadi alam akan rusak, dan aku tidak bisa menikmati alam ini”, Sigma pun tersenyum Ceria dan optimistis sambil berkata, “Jika kekacauan terjadi, akulah yang akan mengatasinya”.
“SIGMA ARJUNA………..!!!”, terdengar suara seorang wanita dari kejauhan yang memanggil namanya.
“SIGMA….!!!”, lagi-lagi suara wanita itu terdengar, karena bingung, dia pun melihat kearah sumber suara tersebut,
“VERANDA LIBELIN…!!!”, Sigma berteriak sambil sedikit kaget karena adanya Veranda, dari kejauhan terlihat Veranda sedang melambaikan tangannya seperti menyapa sesorang, dengan gaya yang sok keren, sigma berkata,
“Kenapa kau memanggilku?”
“Nakula Memanggilmu…” jawab Veranda.
“Nakula, kenapa dia…???” dengan suara pelan dan sedikit menundukan wajahnya. “Baiklah ayo…” sambil berdiri dari kursi yang sedang ia duduki.
“Ayo dia disana…” Veranda membalas.
Di sebuah Jalan yang sepi, disamping jalan tersebut terdapat sebuah toko yang masih terbuka, terdapat seorang laki-laki yang berdiri disana, laki-laki itu tampaknya sedikit jenuh karena menunggu sesuatu yang tak kunjung datang, sembari berkata, “hmph, mereka lama sekali…”
Sigma dan Veranda sedang berjalan untuk menemui Nakula, didalam perjalanan itu Sigma bertanya kepada Veranda, “Apakah Nakula ingin bertarung denganku…???”, Veranda menjawab, “Aku tidak tahu, aku hanya disuruhnya”. Tak lama kemudian mereka sampai…
“Kenapa lama sekali…” seru laki-laki yang sedikit jenuh dihadapan mereka.
“NAKULA BARATA, apakah kau ingin bertarung denganku…???” Sigma mengatakan dengan nada serius dan wajah yang suram karena matanya tertutup oleh rambutnya.
“Hmph, untuk apa lagi aku bertarung denganmu…sudah 10 kali aku bertanding denganmu, dan sudah 10 kali juga aku menang dari mu…” dengan nada yang datar nan singkat.Mendengar perkataan Nakula, wajah Sigma dan Veranda yang mendengarnya menjadi tambah benar-benar suram.
Dengan nada yang datar pula Nakula berkata seperti menjelaskan sesuatu, “Aku hanya ingin bilang, bahwa sepertinya para Dasamuka akan menyerang Kerajaan kecil yang ada diperbatasan lagi…”
Mendengar perkataan itu, Sigma dan Veranda sangat terkejut.
“Jadi, mereka ingin melakukan penyerangan lagi…” seru Sigma dihadapan Nakula.
“Maka dari itu kita harus menghentikannya sebelum terlambat” jawab Nakula dengan suara datar sembari menolehkan wajahnya dari hadapan Sigma.
“Jadi bagaimana, apakah kalian ingin menghentikan mereka…???” Nakula seperti member tawaran.
“Tentu Saja” jawab Sigma dengan sangat yakin.
“Aku siap” Veranda pun menjawab dengan tegas.
“Kalau begitu, aku akan meminta ijin kepada para Patih, agar kita bisa pergi ke perbatasan”, ujar Nakula sembari pergi meninggalkan Sigmadan Veranda.
“Oh iya, aku juga harus menanyakannya kepada para Selir, agar aku bisa ikut ke Perbatasan”, ungkap Veranda, yang kemudian berlari meninggalkan Sigma.
Dilain pihak, Sebuah Kerajaan yang tertutup oleh kabut hitam tebal, telah selesai dalam menyiapkan pasukannya, sepertinya mereka ingin melakukan penyerbuan terhadap suatu Kerajaan lain. Didalam kerajaan itu, terlihat ada salah satu prajurit tertinggi berkata kepada Pria yang sepertinya adalah Raja mereka,
Sambil membungkuk prajurit itu berkata dengan suara yang sopan dan tegas,
“Yang mulia, semua pasukan sudah siap untuk menyerang”
“Ooo…begitu ya…, Sepertinya ini adalah saatnya menunjukan siapa aku sebenarnya…” Jawab pria misterius itu.


Chapter 1 ---END---
(End Superman Is Dead – Jika Kami Bersama)


Sigma Arjuna art by Anggra

================================================================================

Chapter 2 : Perbatasan (OST Bondan ft. Fade 2 Black – UNITY)

Karena tidak ada kerjaan, Sigma hanya berjalan sendirian tanpa tujuan, namun didalam pikirannya dia sangat bingung kepada apa yang dilakukan Dasamuka,
“Memangnya ada apa dengan Dasamuka, kenapa mereka ingin merusak alam yang indah ini?” Kata Sigma dengan sedikit marah. Kemudian Sigma menatap pada telapak tangan kanannya sembari berkata, “Jika aku diperintahkan oleh para Patih untuk pergi ke Perbatasan, aku akan menunjukan kekuatanku sebenarnya…”
“Memangnya kekuatanmu yang sebenarnya apa?” suara seorang laki-laki yang mengejutkan Sigma.
“Nakula…” seru Sigma setelah menengok ke sumber suara tersebut.
“Cepatlah bersiap, kita akan ke Perbatasan secepatnya…!!!” Perintah Nakula.
“Oh…jadi mereka sudah menyetujuinya…” Kata Sigma dengan gembira, “Ayo cepat Nakula…” Sambil bersiap pergi untuk pergi dari hadapan Nakula.
“Menurutmu…” Suara Nakula yang membuat Sigma bingung sehingga menghentikan langkah kakinya. “Bagaimana jika sisi lain kita muncul…?” lanjut Nakula dengan suara yang sedikit ketakutan.
 “Aku tidak peduli dengan itu, dan aku tidak akan membiarkan sisi lain itu menguasai kita” Tegas Sigma dengan suara yang sangat serius.
“Hmph…, kau benar juga, sangat jarang kau mencerna dulu perkataanmu sebelum mengatakannya” ujar Nakula.
“Kau berkata, seperti aku selalu asal ceplos dalam berbicara -_-“, jawab Sigma dengan suara Suram.
“Bukannya kau memang begitu…” tambah Nakula.
“Ah berisikkk… aku tahu kau…..ini…..bla…bla….” Suara Sigma semakin pelan ketika terdengar semakin jauh dari kejauhan.
Dilain pihak, Prajurit-prajurit seperti sudah bersiap untuk berperang melawan kerajaan lain, mereka seperti sedang menunggu perintah dari Raja mereka. Di dalam kerajaan tersebut, terlihat pria misterius dan prajurit tertingginya.
“Aku ingin agar prajurit kita yaitu Dasamuka, tidak membunuh siapapun disana” kata pria misterius tersebut yang sama sekali belum menunjukan wajahnya.
“Tapi yang mulia, bukankah tujuan kita adalah untuk menghancurkan semua yang ada dan mengambil alih kerajaan musuh…?” jawab prajurit itu dengan sedikit terkejut.
“Tidak, mereka pasti akan menganggu kita lagi, dan juga aku ingin hanya seperempat prajurit kita yang dikerahkan” lanjut pria misterius itu.
“Ba…baik” prajurit itu langsung mematuhinya dan pergi dari tempat itu.
Sesaat setelah prajurit itu pergi, pria itu berkata, “sepertinya aku harus bersabar sedikit untuk mencapai tujuanku”, terlihat pria itu tersenyum licik, walaupun wajahnya belum terlihat sepenuhnya.
Terlihat sebuah kerajaan yang sangat sepi, hampir tidak terlihat seorang pun disana, seperti mereka ketakutan untuk keluar dari rumah mereka, seperti ancaman yang sangat kejam akan segera datang ke tempat itu.Tak lama kemudian, suara gemuruh tanah seperti dentuman kaki yang sangat riuh terdengar dari kejauhan, tak lama kemudian suara gemuruh itu berhenti, debu-debu masih bertebaran akibat dari tekanan kaki yang sangat kuat ke tanah, setelah debu-debu menghilang terlihat para Dasamuka siap untuk menggempur kerajaan tersebut.
“HALOOOO SEMUANYA…,….hehe” terdengar suara seorang anak laki-lakiyang sangat familiar.
“Sudah kubilang jangan anggap ini adalah sebuah lelucon” terdengar lagi suara anak laki-laki lainnya yg sangat familiar.
“Mudah-mudahan kita bisa menghentikan mereka” suara seorang anak perempuan yang sangat familiar”
Serentak para Dasamuka menghadap keatas dimana disana terbuat sebuah bukit kecil, ternyata mereka bertiga adalah Sigma, Nakula, dan Veranda yang berada diatas sebuah bukit.


Chapter 2 ---END---
(End Superman Is Dead – Jika Kami Bersama)


================================================================================
 
Chapter 3 : Kekuatan (OST Bondan ft. Fade 2 Black – UNITY)


“Kalian lagi…!!!” jawab para Dasamuka.
“Hehe…kami tidak pernah akan berhenti sebelum kalian melakukannya duluan” kata Sigma sembari melompat dari bukit itu. Sesaat sebelum mencapai tanah dia menjulurkan tangan kirinya sambil berkata “Kirti…!!!”, setelah Sigma mengatakan itu, sebuah simbol jawa berwarna biru yang bertuliskan ‘Kirti’ muncul dan melingkari tangan kirinya, tak lama kemudian simbol itu berubah menjadi panah yang terbuat dari listrik. Dengan panah tersebut, Sigma menarik busur panah, dimana busurnya juga terbuat dari listrik dan menyerang para Dasamuka yang berada di bawahnya.
Nakula pun mengikuti loncatnya Sigma, dia berkata “Izinkan aku untuk membakar semua yang ada”, tiba-tiba muncul banyak simbol jawa berbunyi ‘Geni’yang berwarna merah mengitari seluruh tubuhnya. Tak lama kemudian satu persatu simbol itu berubah menjadi bola api, dan Nakula menjulurkan tangannyauntuk mengarahkan bola-bola api itu agar mengenai para Dasamuka.
Namun entah kenapa Veranda tidak ikut menyerang para Dasamuka, dia hanya menunggu diatas bukit seperti menunggu waktu yang tepat untuk melakukan sesuatu, Sigma dan Nakula berjuang sekuat tenaga untuk mengalahkan para Dasamuka, para Dasamuka yang bersenjatakan pedang, mencoba untuk tetap melawan dua bocah itu.
“RASAKAN INI….!!!” Sigma menarik busur panahnya kearah langit, kemudian busur panah itu berubah menjadi ribuan dan jatuh ketanah hingga mengenai para Dasamuka.
“Enyahlah…!!!” Nakula menjulurkan kedua tangannya, tak lama kemudian jilatan api yang sangat banyak menerjang para Dasamuka seperti Tsunami yang menghancurkan segalanya.
Salah seorang Dasamuka mencoba menyerang Sigma dari berlakang, namun Sigma menangkisnya dengan menggunakan panahnya, suara desingan pedang dan panah yang saling bertubrukan terdengar sepanjang pertarungan. Ketika Nakula mencoba diserang oleh salah seorang Dasamuka, Nakula menghentikan serangannnya dengan memegang wajah orang itu menggunakan tangan kirinya, dia berkata “sudah kubilang enyahlah” tiba-tiba api keluar dari tangannya dan membakar wajah serta seluruh tubuh orang itu.
Tanpa sadar, salah seorang Dasamuka menyerang Nakula dari belakang, Nakula yang tak sempat menghindar akhirnya terkena serangan tersebut. Begitu pula dengan Sigma, karena lawan yang dilawannya terlalu banyak, dia kewalahan untuk menghadapinya, setelah beberapa kali sempat menghindar dari serangan para Dasamuka, namun lama kelamaan Sigma pun terkena serangan tersebut.
Sulit dipercaya, mereka berdua sepertinya lemas terbungkuk ketanah karena kehabisan banyak tenaga dan sedang dalam keadaan terjepit,
“Mereka TERLALU BANYAK...!!! hosh hosh...” kata Sigma dengan suara yang kelelahan.
“Tak dipungkiri lagi, kalau mereka benar-benar mempersiapkan semua ini... hosh...hosh...” ujar Nakula dengan suara yang kelelahan juga.
“Aarrrghh... KALO BEGITU kita hanya perlu MENGHENTIKANNYA kan..!!!” Seru Sigma.
“Aku setuju denganmu” Nakula menyetujuinya.
Sigma menghadap keatas, seperti mencari keberadaan seseorang. Ternyata dia menghadap kearah Veranda yang masih berada diatas bukit, tanpa ragu Sigma berkata,
“Ayo SELESAIKAN ini VERANDA....!!!”
“Baik” jawab Veranda dengan suara tegas.
Veranda seperti menggenggam kedua tangannya, sembari merapalkan beberapa mantra, “Srikandi datanglah”, tiba-tiba dari tangan yang dia genggam muncul tulisan jawa kuno yang berbunyi Srikandi memanjang lurus keatas, tak lama kemudian tulisan itu berubah menjadi tongkat yang sangat panjang.
Veranda mengetukkan tongkat itu ketanah, kemudian terlihat tulisan jawa yang bercampur dengan aura hijau melingkari kakinya, tanpa diduga aura hijau tersebut membuat Veranda dapat melayang di udara, sambil melayang dia turun dari bukit untuk mendekati Sigma dan Nakula.
Setelah lumayan dekat dengan mereka, Veranda mengarahkan tongkat yang ada ditangannya kepada Sigma dan Nakula, beberapa lama kemudian, muncul tulisan jawa yang melingkari Sigma dan Nakula, tulisan itu berubah menjadi aura berwarna hijau, yang kemudian merasuk masuk kedalam tubuh mereka berdua, sepertinya aura hijau tadi dapat menyebuhkan luka-luka yang didapat oleh mereka berdua.
Namun tidak sampai disitu saja, Veranda mengarahkan tongkatnya kembali, kali ini tulisan jawa dan aura berwarna merah muncul dan merasuki tubuh Sigma dan Nakula, sepertinya itu dapat meningkatkan serangan mereka berdua.Tetapi sepertinya apa yang dilakukan Veranda juga sangat menguras tenaganya, buktinya Veranda tampak kelelahan setiap kali melakukan hal itu.
Sigma berdiri tegak kembali dan berkata,
“APAKAH KALIAN SIAP....!!!” dengan suara yang penuh semangat.
“Ayo kita selesaikan ini” kata Nakula yang juga sudah berdiri tegak.
Mereka berdua berlari dan memulai bertarungan kembali, bertarungan itu terlihat lebih seru dari pertarungan sebelumnya, ketika Sigma dan Nakula terluka Veranda mengobatinya kembali, dan meningkatkan serangan mereka berdua dan seterusnya, walaupun kelelahan, Veranda tetap memaksakan dirinya untuk mengobati mereka berdua.
Salah seorang Dasamuka yang mengetahui hal itu berkata, “Kita harus menghentikan perempuan itu dulu, jika kita ingin menang melawan mereka”. Mendengar perkataan itu para Dasamuka mulai mengincar Veranda yang sedang melayang di udara. Sesaat mereka akan menyerang Veranda, Sigma dan Nakula menghentikan mereka terlebih dulu.
“TAKKAN KUBIARKAN kalian menyentuh perempuan itu” Seru Sigma.
“Kami akan selalu melindunginya...” Nakula juga berkata sama.
Bertarungan berlanjut, Setiap kali para Dasamukamencoba menyerang Veranda, mereka selalu digagalkan oleh Sigma dan Nakula. Ketika jumlah para Dasamuka sudah mulai habis, dan pertempuran sudah mendekati puncaknya, para Dasamuka masih belum bisa menyerang Veranda.
“Sepertinya KEMENANGAN akan kami dapat hEhEhEhE...” kata Sigma dengan sangat percaya diri.
“Tetap waspada Sigma” Nakula memperingatkannya.
“ya ya... aku tahu, tapi lihatlah tidak mung...” Sigma belum selesai bicara.
“HyaaAAAA.........HyaaaAAAA......TOLONG AKU Sigma, Nakula.......!!!”, terdengar teriakan perempuan yang sangat familiar meminta tolong. Karena kaget, Sigma dan Nakula menengok kearah bukit,dan yang mereka lihat adalah Veranda yang sedang ditangkap oleh pria yang tidak mereka kenal.
 Dasamuka Art by Anggra


Chapter 3 ---END---
(End Superman Is Dead – Jika Kami Bersama)

================================================================================


Chapter 4 : Pemimpin Dasamuka (OST Bondan ft. Fade 2 Black – UNITY)




“VERANDAAAA...........!!!!!!”, Teriak Sigma dengan suara lantang.

Wajah pria itu masih belum terlihat jelas, karena terhalangi oleh bayangan yang ditimbulkan dari sinar matahari, tiba-tiba saja Pria itu menjatuhkan Veranda dari atas bukit, Nakula yang tahu hal itu, secepatnya mencoba menolong Veranda, Veranda pun akhirnya bisa terselamatkan, walaupun dia masih lemas karena kehilangan banyak tenaga. Mereka bertiga dalam keadaan terjepit sekarang, melihat Veranda yang masih kelelahan, dan belum lagi muncul pria yang tidak mereka kenal, mustahil bagi mereka untuk memenangkan pertempuran ini.

“Aku...masih bisa... hosh...hosh..., jadi janganlah menyerah...”, ujar Veranda dengan nada yang kelelahan.

“Kau tidak perlu memaksakan dirimu”, kata Sigma.

“Yang terpenting sekarang adalah cara kita untuk menghadapi mereka”, lanjut Nakula.

Punggung Sigma dan Nakula saling berhadapan untuk tetap waspada kepada apa yang akan terjadi, mereka berdua berusaha keras untuk melindungi Veranda yang kelelahan.

Tiba-tiba pria yang tidak dikenal tadi mengangkat tangannya, dalam sekejap seluruh Dasamuka yang masih tersisa menghentikan pergerakan mereka, seperti sebuah sinyal dari seorang pemimpin untuk menghentikan pertempuran. Pria tadi loncat dari atasu bukit menuju ke tempat Sigma dan Nakula, dan perlahan wajahnya mulai terlihat dengan jelas.

“SIAPA KAU....????”, tanya Sigma.

“aduh duh..., maafkan saya karena saya tidak memperkenalkan diri terlebih dahulu”, pria itu berkata dengan suara yang sangat lembut.

Sigma dan Nakula sedikit kebingungan dengan yang dikatakan oleh Pria yang berumur 20 tahunan itu, namun mereka mencoba untuk tetap mendengarkan apa yang akan dikatakan olehnya.

“Perkenalkan nama saya Yuyutsu, pemimpin Dasamuka di wilayah ini, senang bertemu dengan kalian” lanjut pria tersebut.


~Aku tidak tahu kalo Dasamuka mempunyai seorang pemimpin~, kata Nakula dalam hatinya.

“Apa maksudmu dengan pemimpin itu...?” lanjut Nakula.

“oh kau kah itu Nakula, ternyata kau sudah besar ya, tak sabar juga melihat saudaramu yang satunya” jawab Yuyutsu.

Nakula mengeram sesaat, “DIA BUKANLAH SAUDARAKU...!!!” dengan suara lantang.

“Saudara...? jadi kau punya saudara nakula...?” tanya Sigma.

“DIAM KAU SIGMA...!!!” kecam Nakula.

“Baiklah -_-“, ~aku tidak pernah melihat Nakula setakut itu, sebenarnya apa yang terjadi padanya~, kata Sigma dalam hatinya.

“KAU...!!! KENAPA KAU TAHU...??? tanya Nakula kepada Yuyutsu.

“itu hal yang mudah bagiku, mengingat kalian dulu suka bermain bers....” Yuyutsu belum selesai bicara.

“Hyaahh.... GENI....!!!” tiba-tiba saja Nakula sudah berada di hadapan Yuyutsu dan bersiap untuk menyerang dengan menggunakan apinya.

Sesaat sebelum Nakula menyerangnya, Yuyutsu mencekik leher Nakula sehingga Nakula tidak bisa bergerak, Yuyutsu menatap Nakula dan berkata,

“Masih terlalu cepat bagimu untuk mengalahkanku...!!!” suara Yuyutsu yang tadinya lembut berubah menjadi suara pria yang sangat kejam. Yuyutsu pun melempar Nakula kembali ke Sigma dan Veranda.

“hosh...hosh... KAU....!!!” kecam Nakula yang kelelahan kepada Yuyutsu.

“oyaaa.... sepertinya semakin menarik saja ya, kalian sangatlah kuat, jadi penjajahan hari ini aku akhiri saja dulu ya ^_^”, suara Yuyutsu berubah menjadi lembut kembali.

Yuyutsu dan para Dasamuka yang tersisa meninggalkan mereka bertiga, Veranda yang masih saja kesakitan berkata,

“apakah sudah berakhir...?” dengan suara pelan.

“untuk kali ini sudah berakhir”, jawab Sigma dengan suara datar.

Sigma yang melihat Nakula seperti itu, mencoba untuk menenangkannya, “Kita harus pulang sekarang Nakula, dan melaporkan semuanya kepada para Patih”

“hmph.. aku tahu” jawab Nakula dengan suara datar.

Mereka bertiga akhirnya pulang kembali ke Kerajaan mereka yaitu Kerajaan Hastina, setelah pulang Veranda langsung dibawa ke rumah sakit kerajaan untuk mendapatkan pertolongan.

Satu hari kemudian, Sigma berniat melaporkan apa yang terjadi di perbatasan kepada para Patih, dijalan dia melihat Nakula yang sedang berlatih dengan cara bertarungnya, Sigma pun berencana mengajak Nakula untuk bersama-sama ke gedung kerajaan, namun sepertinya Nakula sangat serius dengan latihannya, sehingga Sigma mengurungkan niatnya untuk mengajak Nakula, dan melanjutkan perjalanannya.

Tak lama kemudian Sigma sudah sampai digedung kerajaan, dan menuju keruangan tempat para patih berada, kelihatannya ruangan itu nampak sepi, karena tidak ada siapa-siapa di dalamnya. Tiba-tiba...

“HEYYY....!!!! APA YANG KAU CARI DISINI...!!!!” suara pria Dewasa yang sangat besar dan menyeramkan terdengar di belakang Sigma.


Chapter 4 ---END---

(End Superman Is Dead – Jika Kami Bersama)





Veranda Libelin Art by Anggra

================================================================================


Chapter 5 : Pertemuan (OST Bondan ft. Fade 2 Black – UNITY)



“AAAAAaaaaaaaaaaaaa..........!!!!!!!” Sigma terkaget karena melihat orang itu.

“APA YANG KAU LAKUKAN DISINI ANAK MUDA....????” lanjut pria yang menyeramkan itu.

“eeeh...umm.....aaaa.....aaakkuu.... hanyaaa......” (suara sigma terbatah-batah karena ketakutan O_O)

“HANYA APA..............????????????” (semakin menyeramkan)

“hanyaaaa....melaaa.....porkaaaaann....”

“MELAPORKAN APA................??????????” (semakin parah menyeramkan)

“anuu......itu.....ehhhh....” (Sigma semakin ketakutan O_O)

“HAAAAAA.....................??????????? (semakin memojokan)

“AKU INGIN MELAPORKAN KEJADIAN YANG ADA DI PERBATASAN......!!!! >_<” (Seru Sigma dengan suara lantang karena sudah sangat terpojok >_<)

“OHHHH......HOOO...HOHO....” (pria itu berhenti memojokannya), “maaf aku pikir kau adalah anak usil yang suka mencuri barang-barang disini, kalo begitu silahkan duduk” (Pria itu berhenti membuat wajah seram)

Sigma akhirnya duduk walaupun dia masih sedikit ketakutan, tak lama kemudian pria tadi membuat dua cangkir teh untuk Sigma dan juga dirinya,

“Terima kasih” (Sigma menundukan kepalanya)

“Tidak usah sungkan, oh iya... namaku Gandamana, wajahku memang menyeramkan tapi sebenarnya aku adalah orang yang baik hati lho...hahaha :v” (tertawa sangat keras)

~Terus kau bangga gitu...?~ (kata Sigma dalam hatinya :3)

“nama saya Sigma, emmm... Patih Gandamana kan, lalu mengapa ruangan ini sepi sekali? Kemana patih yang lain?”

“emmm....untuk soal itu ya..., emmm....sebenarnya ya... AKU JUGA TIDAK TAHU KENAPA SEPI SEKALI DISINI...HAHAHAHA....” (tertawa terbahak-bahak)

~Entah kenapa aku ingin sekali menghajar orang ini~ (kata Sigma dalam hatinya)

“Mereka semua sedang menghadiri pertemuan dengan Prabu Pandu, yaitu Raja di Kerajaan Hastina ini” (kata seorang laki-laki yang tiba-tiba ada dipintu ruangan itu)

“Patih Suwanda....!!!” (Seru Sigma karena Kaget)

“yo Suwanda...lalu kenapa kau tidak ikut dalam pertemuan itu...?” (Gandamana pun berbicara)

“Kau sendiri...kenapa kau tidak ikut pertemuan, Gandamana...?” (Suwanda pun balik bertanya)

“itu...itu karena....., ehmmm.... hey tunggu memang itu masalah buatmu...? (Gandamana mulai panas)

“lalu kenapa kau juga menanyakan aku? Memangnya apa pedulimu...? (Suwanda juga mulai panas)

“APA MAKSUDMU HA....? NGAJAK BERANTEM YA..?

“OH BAIK, AKU LAYANI DENGAN SENANG HATI...”

Mereka berdua pun akhirnya berkelahi layaknya anak kecil tepat dihadapan Sigma,

“awas kau Suwanda...!!! bla...bla...”, “AARGHHHHHH....!!!!”

“kau juga Gandamana...!!! bla....bla....”, “ARRGHHHH......!!!!”

~Sungguh aku tak habis pikir kenapa mereka berdua bisa jadi Patih, dan orang GILA mana yang memberikan mereka jabatan itu~ (kata Sigma dalam hatinya :3)

Setelah melihat melihat mereka berdua, Sigma berkata,

“mungkin sebaiknya aku pulang saja, permisi...”

“TUNGGGGGUUUUUUUUUUU.........!!!!!!!!!!!!” (Gandamana dan Suwanda berteriak bersamaan)

“ehhh....ada apa....?” (Sigma kaget)

“ehem..., kau kesini ingin melaporkan kejadian diperbatasan kan...?” (tanya Gandamana)

“iya...” (angguk Sigma)

“asal kau tahu saja, aku lah yang memberi kalian izin ke perbatasan” (potong Suwanda)

“ha....? bukannya waktu itu AKU YANG MEMBERI IZIN KEPADA MEREKA?” (Gandamana panas kembali)

“sudah jelas kalo AKULAH YANG MEMBERIKAN MEREKA IZIN...” (Suwanda panas kembali)

“NGAJAK BERANTEM LAGI NIH....???”

“OKEEE......... AYO........!!!!!!!”

Melihat mereka berdua kembali berkelahi, Sigma pun berteriak,

“SEBENARNYA KALIAN ITU NIAT JADI PATIH GAK SIH....???” (Teriak Sigma >_<)

Mendengar perkataan itu mereka berdua akhirnya terdiam dan malu pada apa yang mereka lakukan,

“Aku kesini untuk melaporkan tentang penyerangan Dasamuka di perbatasan” lanjut Sigma.

“ehemm...lalu apa yang kalian temukan disana...?” (tanya Gandamana dengan serius)

“kami bertemu dengan pemimpin mereka”

“PEMIMPIN KATAMU...?” (seru Suwanda)

“ya...dia mengatakan bahwa dia adalah pemimpin para Dasamuka, dan namanya adalah Yuyutsu”

“Yuyutsu...??? bukankah dia adalah salah satu patih dari Kerajaan Alengka...?” (lanjut Suwanda)

“lalu... untuk apa dia bersama dengan para Dasamuka...?” (tanya Gandamana)

“wah...kita harus memberitahukan informasi ini kepada patih lainnya” (kata Suwanda)

“Kerja bagus nak, kau sudah memberikan informasi ini kepada kami” (kata Gandamana kepada Sigma)

“hmm...baguslah kalo begitu saya permisi dulu” (kata Sigma)

Di perjalanan pulang, Sigma berpikir untuk menjenguk Veranda yang berada di rumah sakit,

“Sepertinya aku mau menjenguk Veranda di rumah sakit dulu deh, tapi mungkin aq beli ini dlu...bla...bla...” (suara Sigma terdengar semakin jauh)

Di waktu yang sama, para patih sedang mengadakan pertemuan dengan Prabu Pandu, tampaknya mereka sedang membahas masalah yang sangat penting.

“Baiklah kita mulai sekarang...!!!” (kata seseorang yang duduk paling depan, seperti dia lah yang memimpin jalannya permbicaraan)

“Yang mulia Prabu Pandu, kita telah kehilangan beberapa kerajaan saudara, karena mereka semua sudah dijajah oleh Dasamuka” (Ucap seorang patih disana)

“Para Dasamuka tidak akan menjajah sebuah kerajaan lain tanpa alasan, apakah kau sudah menyelidikinya Patih Bisma?” (Tanya Prabu Pandu)

“Untuk soal itu kami masih meyelidikinya Yang Mulia” (jawab Patih Bisma)

“Dengan kehilangannya beberapa Kerajaan saudara ini, maka akan berpengaruh terhadap Kerajaan Hastina juga, aku takut jika ada Kerajaan lain yang memang sengaja melakukan ini kepada kita, atau lebih mengerikannya lagi ada orang yang dengan sengaja membocorkan rahasia kita kepada Kerajaan lain” (Ujar Prabu Pandu)

Mendengar perkataan dari Prabu Pandu seluruh orang yang yang menghadiri pertemuan itu menggerutu sendiri-sendiri, dan perlahan mulai membuat gaduh pertemuan,

“Ahh....jika itu mungkin......aku ti...”

“Aku tidak mengira....kalo...ap...”

“Jika itu....memang benar...kita har...”

“Aku harap....ada seseorang...yang...”

Mendengar kegaduhan yang terjadi di ruang pertemuan, Prabu Pandu sedikit marah dan bersiap menghentakan tangannya ke meja untuk menghentikan kegaduhan itu, namun sesaat sebelum itu terjadi, tiba-tiba,

“Yang Mulia...biarkan saya pergi untuk melenyapkan para Dasamuka” (Kata Patih Bisma sembari berdiri dari tempat duduknya)

Perkataan Patih Bisma sontak membuat semua orang tercengang, pasalnya Patih Bisma adalah Patih yang tidak terlatih untuk bertarung, dan dia sama sekali tidak menguasai cara bertarung.

Mendengar perkataan itu Prabu Pandu hanya tertawa kecil dan berkata,

“haha... jika kau pergi, kau hanya akan mati disana, lagi pula kau adalah pemimpin para Patih sekaligus tangan kananku, aku masih membutuhkanmu untuk melakukan berbagai hal”

“Tapi Yang Mulia...setidaknya kita bisa melakukan kesepakatan atau perjanjian perdamaian kepada mereka” (Lanjut Bisma)

“Mereka itu ibarat benalu yang akan terus menempel pada inang nya, jika kau ingin melenyapkan mereka, maka kau harus melenyapkan inangnya terlebih dahulu” (Ujar Prabu Pandu)

“uumm....” (gumam Bisma sembari duduk kembali)

“Aku tahu kalian memang ingin agar ini cepat berakhir, namun kita masih membutuhkan informasi yang lain mengenai mengapa Para Dasamuka melakukan hal ini....”

Setelah lepas dari hiruk-pikuknya pertemuan itu, terlihat Sigma yang baru selesai membeli sesuatu dari sebuah toko (lebih mirip seperti Konbini/minimarket), dia melihat Nakula yang sedang berjalan sendirian, Nakula berjalan sambil memasukkan telapak tangan ke saku bajunya dan nampak kelelahan seperti telah melakukan sesuatu,

“Hey Nakula...hahaha... kenapa kau disini...? mau ke minimarket...?” (Tanya Sigma)

“Apa yang kau beli itu...?” (Tanya Nakula)

“Arrgghh... jawab pertanyaanku dulu kek L, huh... aku mau menjenguk Veranda, kau mau ikut...? ayolah, temani aku..., Cuma berdua dengan Veranda disana rasanya agak memalukan hihihi...”

“Gak minat” (sembari bersiap meninggalkan Sigma) “Lagi pula, kau tidak cuma berdua dengannya, karena orang tuanya pasti ada disana” (Nakula kembali melanjutkan perjalanannya).

“AAArrghh... kau selalu saja menghancurkan imajinasiku, kalau sudah begini APA BOLEH BUAT... CIATTT....!!!!” (Sigma menarik telapak tangan Nakula sehingga membuatnya berhenti)

“Apa lagi...???” (tanya Nakula)

Sigma melihat kearah telapak tangan Nakula, terlihat telapak tangannya penuh dengan luka bakar, mungkin ini adalah bukti bahwa dia telah selesai dengan latihannya,

“Tanganmu... Ah Sudahlah...YOK... IKUT AKU...”

“WOYYY TUNGGU....AAAAAAaaaaaa....”

Terlihat Rumah Sakit yang sangat besar, seperti Rumah Sakit pada umumnya didalamnya terdapat pasien dan para dokter yang sedang bekerja,

“Nom  or 315...315...315... nah ini dia...” (kata Sigma setelah menemukan ruangan Veranda)

Sesaat sebelum mereka berdua mengetuk pintu ruangan itu, terdengar suara percakapan,

“Kau kira Selir mana yang mengijinkan anak perempuan keperbatasan...? kenapa kau berbohong kepada ibu nak...? (terdengar seperti Ibunya Veranda)

“Seharusnya kau tahu, jika hal ini membuat kami sangat khawatir” (terdengar seperti Ayahnya Veranda)

Veranda hanya murung sembari menundukan kepalanya, seperti dia menyesali perbuatan yang telah dilakukannya, tiba-tiba terdengar suara ketukan, TOK TOK TOK...

“Ini aku....Sigma, sepertinya aku datang disaat yang tidak tepat, jadi mungkin...” (kata Sigma)

“Kami akan pulang saja...”  (Lanjut Nakula)

“Hey...arrgghh kenapa kau memotong perkataanku ha....?”

“Habisnya kau kelamaan”

Setelah mendengar suara Sigma dan Nakula, Veranda kaget dan berkata,

“Sigma...Nakula...sini masuk tidak apa-apa”

“oh baiklah... permisi...” (kata Sigma sembari membuka pintu)

Setelah Sigma dan Nakula masuk, terlihat orang tua Veranda memandang mereka berdua dengan tatapan yang tajam, tak lama kemudian Ayah Veranda berkata,

“Apa yang telah kau alami ini, Ayah harap bisa menjadi pelajaran bagimu untuk tidak ke berbohong kepada kita lagi, Veranda...” (sembari meninggalkan mereka bertiga).

“emm... ini aku belikan buah-buahan...hehehe...” (kata Sigma)

“apa kalian mendengarkan semua yang dikatakan orang tuaku...? (tanya Veranda)

“Maafkan aku... Veranda... L seharusnya aku melindungimu...” (ujar Sigma)

“Dari awal akulah yang salah, karena akulah yang mengajak kalian” (Nakula memotong pembicaraan)

“huumm... kalian semua tidak salah, mungkin memang sebaiknya aku tidak berbohong kepada Orang Tua ku, namun aku menikmatinya..., disaat kita semua mengalahkan Para Dasamuka aku sungguh senang, jadi jangan salahkan diri kalian ya...” (kata Veranda sembari tersenyum)

“Veranda.... hiks hiks hiks...” (balas Sigma sambil menangis konyol)

“oh ya... apakah kalian sudah melaporkan kejadiaan itu ke para Patih...?” (Tanya Veranda)

“Soal itu sih ak....” (Sigma belum selesai bicara sudah dipotong oleh Nakula)

“Aku sudah melaporkannya” (potong Nakula)

“Heyyy......!!! YANG MELAPORKAN ITU AKU..... KAMPRETT....!!!”

“Paling Cuma melaporkan aja, kok kamu ngotot banget...?”

“ARGHH DIAM KAU...!!!”

“hihihi...” (Veranda tersenyum melihat tingkah mereka berdua)

Diwaktu yang sama, sepertinya Pertemuan dengan Prabu Pandu sudah berakhir dan para Patih kembali ke tempatnya masing-masing, tak lama kemudian...

“Minta....Perhatiannya plisss.....!!!” (Suara konyol Gandamana muncul)

“Kita mau mengatakan bahwa ada seseorang yang menjadi pemimpin Para Dasamuka” (Suara konyol Suwanda muncul juga akhirnya)

“Pemimpin....?” (Jawab semua patih disana)

“Kita baru mendapat informasi dari Sigma, dia mengatakan bahwa pemimpin Dasamuka adalah Yuyutsu, kita masih belum tahu, apakah benar Yuyutsu yang disebut itu adalah Patih dari kerajaan Alengka, tapi yang pasti dia sudah berhadapan dengan Kerajaan yang salah” (lanjut Gandamana)


Chapter 5 ---END---
(End Superman Is Dead – Jika Kami Bersama)

   Yuyutsu Art by Anggra


================================================================================


Chapter 6 : Kerajaan Alengka (OST Bondan ft. Fade 2 Black – UNITY)


“Maksudmu bocah Arjuna itu....?” (tiba-tiba Bisma bertanya)

“Yah begitulah, dia memang suka mencari hal-hal seperti ini.....” (Gandamana belum selesai bicara)

“JADI KAU MEMBIARKAN DIA KE PERBATASAN....??? APA KAU BODOH, DIA MASIH ANAK-ANAK...!!!” (Bisma geram)

 “Maaf ketua... eehh...kupikir jika dia pergi keperbatasan... dia eehh...bisa...” (Gandamana menjawab dengan ketakutan)

“APAKAH ADA LAGI YANG TERLIBAT DENGAN INI SELAIN SIGMA....??? (potong Bisma)

“emm... Cuma 2 anak lainnya... Nakula dan Veranda.... >_< ”

“KAU ITU...HANYA TUBUHMU SAJA YANG BESAR, TAPI OTAKMU KECIL SEPERTI SEPERTI OTAK SEMUT, OH SIAL..., jadi itulah kenapa para Selir menyalahkanku kemarin, aku harus menjelaskan kepada keluarga Libelin secepatnya, aku tidak ingin mereka salah paham dan menyalahkan para Selir”

Suwanda terlihat ketakutan saat Bisma memarahi Gandamana karena kejadian itu, oleh karena itu dia diam-diam mencoba keluar dari ruangan para Patih, agar Bisma tida k memarahinya juga. Ketika Suwanda hampir mencapai pintu keluar tiba-tiba,

“SUWANDAAAAAAAAAAAAA..............................................................................!!!!!!!!” (Teriak Bisma)

“Aaaa.....Ya Ketua” (Suwanda kaget)

“KAU DAN GANDAMANA AKU HUKUM UNTUK BERLARI SEPULUH PUTARAN DI LAPANGAN....!!!”

“AAAAAAAAAaaaaaaaaaaaaa..............” (Gandamana dan Suwanda berteriak bersama)

Dilain pihak, ditempat para Dasamuka berada, terlihat Yuyutsu sedang berjalan di sebuah lorong,  dia kaget karena adanya gumpalan Es yang mengarah kepadanya, dia mencoba menghindar dan berhasil,

“Kau disini ya, bocah Es...?” (tanya Yuyutsu)

“Sepertinya kau belum kehilangan ketajamanmu dalam menghindari sesuatu” (jawab seorang laki-laki yang tidak diperlihatkan wajahnya)

“heh...lalu apa yang kau lakukan disini...? ^_^”

“Kenapa kau menghentikan penyerangan....? Kau tidak melaksanakan perintah dari Raja Alengka” (Wajahnya masih belum terlihat)

“Ara...ara... ^_^,  kau tahu kan... aku melakukannya karena alasan, aku yakin Raja pasti mengerti ^_^”

“Hmm...kau memang licik seperti biasa”

“Ayolah... aku adalah orang yang baik ^_^, jangan-jangan sekarang kau sudah membenciku T_T...?”

“Terserah lah, sepertinya aku harus pergi” (laki-laki itu bersiap pergi dari hadapan Yuyutsu)

“Oh iya... :O aku baru ingat, kalo aku bertemu dengan dia disana... ^_^”

“Siapa...?” (Laki-laki itu menghentikan langkahnya untuk pergi)

“Siapa lagi kalo bukan Kembaran mu... ^_^”

“Maksudmu Nakula...?”

“Wow kau hebat ^_^, jangan-jangan kau bisa membaca pikiranku, Mengerikan >_<...”

“hmmm.........” (laki-laki itu terdiam)

“Apakah kau merindukannya ^_^, sudah lama kau tidak bertemu dengannya kan...? :O”

“aku tidak perlu, karena suatu saat aku pasti akan bertarung dengannya”

“Eeehh....:O kok bisa....? :O”

“Kekuatan ini lah, yang membuat kita akan terus bertarung satu sama lain” (Laki-laki itu memandangi kedua telapak tangannya”

“Oh.... ^_^ maksudmu tentang kekuatan Mahluk Surgawi yang....”

“Apa kau sudah puas...?” (tanpa berkata-kata lagi laki-laki itu menghilang dari hadapan Yuyutsu)

Yuyutsu yang melihat hal itu, hanya tersenyum dan wajah nya yang lembut sekarang menjadi menyeramkan sambil berkata,

“Disaat tiba waktunya, kalian pasti akan bertarung untuk saling membunuh”, Yuyutsu pun melanjutkan jalannya.

Terlihat suasana sore hari di Kerajaan Hastina, Sigma dan Nakula baru saja selesai menjenguk Veranda dan berjalan pulang menuju rumah masing-masing, di perjalanan Sigma berkata kepada Nakula,

“Ngemeng-ngemeng Nakula....” (Kata Sigma)

“Ha....?” (tanya Nakula)

“Kau tahu kan waktu diperbatasan....”

“Kenapa...?”

“Pria yang bernama Yuyutsu itu bilang...emm...seperti Kembaran...Kau punya Kembaran...?”

“Hentikan...!!!” (Nakula seperti sedikit marah)

“Aku sih gak percaya..., tapi jika itu benar, seperti apa ya kembaranmu....HAHAHA... :v”

“..........”

“Apa dia punya rambut Merah seperti mu...? bisa mengeluarkan Api juga...? atau mungkin sombongnya melebihi dirimu...HAHAHA....tak sabar aku...”

Nakula memukul kepala Sigma dan berkata,

“Hentikan..., aku mau pulang dulu, jangan ganggu aku” (Nakula pergi menjauhi Sigma)

“Hey... kau tidak ingin ke rumahku dulu....?”

Nakula terus berjalan meninggalkan Sigma tanpa menghiraukannya, seperti ada sesuatu dimana Nakula tidak ingin mengungkapkannya kepada siapa pun. Sigma yang bingung dengan hal itu, membuatnya semakin penasaran terhadap apa yang dikatakan oleh Yuyutsu.

Terlihat sebuah rumah susun dimana ternyata salah satunya adalah tempat tinggal Sigma, dia membuka pintu, dan seperti biasa rumahnya sangat berantakan.

“Huwaahh..... aku lupa membereskannya”

Dia meletakan jaket yang ia kenakan di dinding dan mulai membersihkan sampah-sampah yang ada dirumahnya , tiba-tiba saja,

“.....Kau penasaran kan....???” (Suara datar yang aneh muncul entah dari mana asalnya)

Sigma mendengar suara lengkingan yang sangat keras sehingga membuatnya untuk memegang kepalanya kuat-kuat, dia terbaring dilantai dan mengeram kesakitan akibat suara itu, disaat itu juga Sigma berkata,

“ARRGHH....KAU... SUDAH KUBILANG TIDAK USAH MENGANGGU URUSANKU....!!!” (Sambil menahan rasa sakitnya)

“Tapi aku... kesepian disini....” (suara aneh itu berbicara kepada Sigma)

“ITU BUKAN URUSANKU...AARRGHHH.....”

“Jadi... kau tidak memperdulikanku...?”

“ARRGHHH...HENTIKAN..., JANGAN BICARA LAGI...AARRGHHH, SETIAP KALI KAU BERKATA SEPERTI ITU KEPALAKU SEPERTI MAU MELEDAK, APA KAU INGIN MEMBUNUHKU....???”

“Aku tidak tahu....tap...”

“HENTIKAN.......!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!”

Suara itu akhirnya berhenti karena Sigma memaksanya untuk berhenti, dia masih kesakitan karena hal itu, perlahan dia berdiri dan sambil tertatih-tatih dia menuju ke kamarnya,  setelah sampai di kamarnya dia langsung berbaring, sambil menutup matanya dia berkata,

“Aku... Membencimu...”



 

Chapter 6 ---END---

(End Superman Is Dead – Jika Kami Bersama)


================================================================================

Chapter 7 : Prabu Pandu (OST Bondan ft. Fade 2 Black – UNITY)



Ini adalah Kerajaan Hastina, dimana gedung-gedung dan candi-candi yang menjulang tinggi dan terawat dengan baik, masyarakat nya hidup didalam kemakmuran dan kesejahteraan.

Raja Kerajaan Hastina dipimpin oleh seorang yang bergelar Prabu, namun seluruh sistem pemerintahan kerajaan dipimpin oleh Patih dan Selir, Para Patih dan Selir memiliki tugas nya masing-masing dan tidak hanya bekerja di dalam pemerintahan Kerajaan saja, seperti Patih yang bertugas untuk menjaga keamanan kerajaan, pengatur ekonomi kerajaan, pendidikan kerajaan dll, mereka juga mempunyai baju khusus yang harus mereka kenakan saat bertugas.

Kerajaan Hastina adalah kerajaan yang modern, mereka memiliki Perusahaan, Mall, Hotel, Sekolah dll, peninggalan-peninggalan sejarah seperti candi-candi, arca, gapura masih tetap terawat dengan baik, semua itu berada dalam satu wilayah kerajaan. Penggunaan sihir di dalam kerajaan dilarang kecuali sudah diizinkan, walaupun ada beberapa orang yang melanggarnya untuk kejahatan.

Hari itu di Kerajaan Hastina,

“Atas nama Patih saya minta maaf... saya janji hal seperti ini tidak akan terulang lagi Tuan dan Nyonya Libelin” (Kata Bisma sambil membungkukkan badannya)

“Hmm... baiklah, tapi aku tidak akan memaafkan jika hal ini terulang lagi” (Jawab Tuan Libelin)

“Sekali lagi maafkan saya, kalo begitu saya permisi dulu...” (Bisma pergi meninggalkan Kediaman Libelin)

Disaat perjalanannya kembali  ke Gedung Kerajaan, tiba-tiba ada yang memanggil namanya,

“Ketua...ketua Bisma....?” (ternyata yang memanggilnya adalah Suwanda... #hadeh... -_-)

Setelah mengetahui itu dengan nada datar Bisma menjawab,

“Kau sudah meneriakan namaku sangat kencang, aku harap itu sangat penting, karena jika tidak aku akan membunuhmu”

“Anda dipanggil oleh Prabu Pandu ==”

“Oh...” (Bisma sedikit kaget)

Terlihat di kediaman Sigma, Kediamannya sangat berantakan, sepertinya dia memang belum selesai membersihkannya, tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu, yang mana ketukan pintu itu semakin keras karena Sigma tak kunjung membukanya,

“Iyaaa... tunggu....gak sabaran banget sih” (Kata Sigma)

Setelah itu Sigma menghampiri ke tempat dimana pintu berada, dia membuka pintu tersebut, setelah membukanya, dia terkaget.

Diwaktu yang sama Patih Bisma sedang menghadap kepada Prabu Pandu, terlihat Prabu Pandu sedang duduk di Singgasana nya yang terbuat dari emas, dalam ruangan itu terdapat tiang-tiang besar yang menjulang sangat tinggi, memperlihatkan betapa megahnya ruangan itu.

“Ada apa yang mulia, kenapa anda memanggil saya?” (Kata Bisma sambil membungkuk)

“Ada hal yang ingin aku bicarakan padamu? (Kata Prabu Pandu)

“Apa itu Yang mulia?”

“Ini mengenai dua anak yang lahir saat bulan purnama itu”

“Maksud Yang mulia....?” (Sedikit bingung)

“Anak kembar yang aku pisahkan.... Nakula dan Sadewa...”

Kembali ke kediaman Sigma, Sigma kaget karena melihat orang yang belum dia temui sebelumnya, namun orang itu mengingatkan dia terhadap seseorang,

“Hmm.. namaku...” (Belum selesai bicara sudah dipotong oleh Sigma)

“Nakula....!!! ha.... kau mengecat rambutmu menjadi putih...? padahal menurutku rambut merah sangat cocok untukmu” (sambil mengelus-elus rambut orang itu)

“HENTIKAN......!!!!!!” (teriak orang itu)

“eh... suara mu..., apa kau juga merubah suaramu...? sayang sekali, dengan begini aku jadi rindu dengan suaramu yang dulu” (sambil mengelus-elus leher orang itu dan masih berpikir kalo dia Nakula)

“KAUU.......!!!!” *KABOOOMMM (orang itu memukul Sigma)

“AAADUHHH.... SAKIT TAU....SEBENARNYA APA SALAHKU SIH....???”

“AKU BUKANNNNNNN NAKULAAAAAAAA..............!!!!!!!!!!!!”

Mereka berdua terdiam beberapa saat,

“oh hehehe..., kirain kamu kamu temanku si Nakula..., eh tapi kenapa kau kenal dengan Nakula...?, siapa kau...?”

“fiuh... ehem..ehem.., perkenalkan namaku Sadewa...”

Kembali ke Prabu Pandu, Bisma yang menyadari apa yang sudah dimaksud oleh Prabu Pandu, berkata,

“oh jadi tentang itu”

“Kau pasti tahu kan kenapa aku memisahkan mereka berdua...?” (Tanya Prabu Pandu)

“Karena didalam diri mereka terdapat monster...dan...”

“Bukan hanya itu saja..., jika aku terus membiarkan mereka hidup bersamaan, maka mungkin Kerajaan Hastina ini akan porak-poranda karena perkelahian mereka”

“Maksud Yang Mulia...?”

“Dewa mengutuk mereka untuk bertarung selamanya”

Di Kediaman Sigma, ternyata orang itu mengaku bernama Sadewa,

“Sadewa...? hmm... kau siapa nya Nakula...?” (Tanya Sigma)

“Bagaimana kalau kita mengobrol sambil jalan-jalan” (Kata Sadewa)

“hmm...”

“Aku juga ingin melihat tempat-tempat yang menarik di kerajaan Hastina ini”

“oh.. Baiklah, aku akan ajak kau ke tempat yang belum pernah kau lihat sebelumnya”

Setelah Sigma mengatakan hal itu, terlihat mulut Sadewa tersenyum licik.

Kembali ke Prabu Pandu, setelah mendengarkan semua itu, Bisma berkata,

“Lalu... apa yang harus saya lakukan yang mulia...?”

“Dulu aku menitipkan Sadewa ke Narpati Kubera di Kerajaan Alengka, namun setelah Kubera meninggal tanpa sebab dan mengangkat Narpati baru sebagai raja, hubungan kerajaan Hastina dengan Alengka semakin kacau, belum lagi adanya dugaan keterlibatan mereka dengan para Dasamuka”

“..........”

“Maka dari itu, aku ingin kau membawa pasukan untuk pergi ke Kerajaan Alengka, dan melihat apakah Sadewa baik-baik saja disana”

“Baik Yang Mulia”


Chapter 7 ---END---

(End Superman Is Dead – Jika Kami Bersama)





Nakula Barata and Sadewa Barata

(Art By Anggra)

================================================================================
 

Chapter 8 : Mahluk Surgawi (OST Bondan ft. Fade 2 Black – UNITY)


Terlihat Sigma sedang berjalan-jalan dengan Sadewa sambil menjelaskan beberapa tempat yang dikunjungi nya,

“Kau lihat Candi yang ada disana, itu adalah peninggalan dari para Dewa” (kata Sigma)

“hmm... ukiran yang bagus” (jawab Sadewa)

Setelah berjalan cukup lama, Sigma membeli minuman kaleng dari mesin yang ada di pinggir jalan,

“Ini satu untukmu...” (kata Sigma sambil berjalan)

“Terima kasih” (jawab Sadewa sambil berjalan)

“hmmm.... kalo dipikir lagi sikapmu sangat berbeda dengan temanku Si Nakula”

“Maksudmu...?”

“Kau mau mendengarkan semua perkataanku, sedangkan dia itu sangat menyebalkan, mengingatnya saja sudah membuatku mual, KURANG AJAR KAU NAKULA....!!!”

“hmm... jadi ada ya orang seperti itu...”

Tanpa sadar mereka berdua telah sampai di tengah-tengah jembatan palling besar di Kerajaan Hastina, Sigma menghentikan langkahnya dan berkata,

“Lihat sungai itu... indah bukan...?” (sambil menunjukan tangganya ke sungai)

“Apa nama jembatan yang berwarna merah ini...?” (Tanya Sadewa)

“Ini jembatan Ampera, ada kisahnya lho... kenapa jembatan ini berwarna merah...”

“hmm... ngomong-ngomong soal kisah, apa kau tahu tentang kisah Mahluk Surgawi...?”

“Maksudmu tentang hewan buas atau monster yang hidup di kahyangan...”

“Tepat sekali..., hmmm... dimana tempat sampah...?” (Minuman Kaleng yang Sadewa minum sudah habis)

“itu di ujung sana...” (Sigma menunjukan letak tempat sampah yang berada di ujung jembatan)

“Oh baiklah...” *WOSHHH... (Sadewa melemparkan kaleng itu)

“WOYYY.....!!! JANGAN BUANG SAMPAH SEMBARANGAN.....!!! (Teriak Sigma kepada Sadewa)

“Lihat itu...” (Sadewa menunjukan tangannya ke ujung jembatan)

Tak disangka kaleng yang Sadewa buang mengarah tepat ke tempah sampah yang ada diujung jembatan.

“WOW.....!!! HEBATTT.....!!! kau sangat ahli...” (kagum Sigma)

Seperti tidak mau kalah, Sigma langsung menghabiskan sisa minuman yang dia minum, setelah minumannya habis,

“Lihat ini....!!! aku juga pasti akan mengenai sasaran sama seperti mu...!!!”

Sigma mengambil ancang-ancang dan *WOSSHHH... kaleng itu dilemparkannya ke ujung Jembatan,

“Aku pasti BERHASIL.....!!!” (teriak Sigma)

Namun apa daya, Kaleng yang dia lempar justru jatuh ke Sungai dan tidak sedikitpun mengarah ke tempat sampah itu,

“AAAAAAAAAAAaaaaaaa.............!!!!!!!” (Sigma dan Sadewa berteriak bersamaan)

“kau bilang jangan buang sampah sembarangan.... -_-“ (ujar Sadewa)

“AAAaaa.... YA SUDAH LUPAKAN KALO GITU....” (Teriak Sigma sambil menahan rasa malu nya)

~Hmm...dia lebih menarik dari yang aku bayangkan~ (Kata Sadewa dalam hati)

“Aku memang tidak punya kekuatan untuk melakukan hal itu -_____-“ (kata Sigma yang Madesu)

“hmm... Kekuatan ya....?” (gumam Sadewa)

“emmm.....” (Sigma bingung)

“Apa yang akan kau lakukan jika kau mempunyai kekuatan Mahluk Surgawi di dalam dirimu?”

“emmm.... kalo itu....”

“Apa kau menyukai kekuatan itu? Apa kau justru membenci nya....?”

“aku....” (Kepala Sigma mulai terasa sakit)

“jika kau membenci nya... apa yang akan kau lakukan....?”

“......” (Sigma memegangi kepalanya karena rasa sakit nya semakin terasa)

“apa kau menolak kehadirannya...?”

“Aarghh.....!!!!”

“Apa kau ingin melenyapkannya dari dalam tubuhmu...?

“ARRGHHHHH.........!!!! HENTI.....”

Sesaat sebelum Sigma hampir kehilangan kesadarannya, Sadewa menyentuh pundak Sigma, dan berkata,

“Dia adalah kau, dan kau adalah dia, kau harus belajar untuk menerimanya....”

Kata-kata yang dikatakan Sadewa menenangkan Sigma, sakit dikepalanya pun perlahan-lahan mulai menghilang, sambil menengok ke arah Sadewa, Sigma berkata,

“Jangan-jangan.... kau juga...”

“Suatu hari nanti kita pasti akan bertemu lagi....Sigma Arjuna...”

Tiba-tiba ada orang yang datang, terlihat orang itu seperti sedang berlari untuk berolah raga menguatkan otot-ototnya, ternyata yang datang adalah Patih Gandamana, karena heran melihat Sigma yang sedang melamun, dia menghentikan larinya dan bertanya,

“Hey Sigma kenapa kau? Apa kau terluka?”

“Patih Gandamana....” (jawab Sigma dengan bingung)

“Apa yang kau lakukan disini...? jangan bermalas-malasan, di usia mu sekarang kau harus banyak melakukan olah raga...”

“Aku sedang berbicara dengan seseorang, namanya Sa....” (Sambil menengok ke arah orang itu)

Ternyata orang yang bernama Sadewa itu sudah menghilang, entah bagaimana, rasanya seperti Sigma sedang bermimpi.

“Apakah tadi semua hanya mimpi....?” (gumam Sigma)

“HAH...!!! berbicara dengan seseorang...? apa kau terlalu banyak melamun dan akhirnya mengkhayalkan sesuatu dialam bawah sadarmu....?” (Kata Gandamana)

“Aku....”

“Ah sudahlah, aku akan mengantarmu pulang..., ayo berdiri dan tegakkan kepalamu...”

“ehhmmm....baik”

Setelah mereka berdua berjalan sampai di ujung Jembatan, Sigma melihat ada tempat sampah, dan setelah melihatnya lebih dekat Sigma terkaget, karena bekas minuman kaleng yang Sadewa buang masih ada, dengan demikian dapat dibuktikan kalau Sigma tidak bermimpi atau pun berkhayal.

Sigma memang berbicara dengan Sadewa, bahkan dia juga masih ingat semua hal yang mereka bicarakan, sampai akhirnya dia teringat perkataan Sadewa yang membuatnya bingung yaitu,

***Suatu hari nanti kita pasti akan bertemu lagi....Sigma Arjuna...***

Perkataan itu membuat Sigma bingung, dalam hatinya Sigma berkata,

~kalo dipikir-pikir lagi, selama aku berbicara dengannya, aku... tidak pernah menyebutkan siapa namaku, lalu mengapa dia tahu namaku...? siapa dia sebenarnya....?~

 Gandamana Art by Anggra



Chapter 8 ---END---

(End Superman Is Dead – Jika Kami Bersama)



================================================================================
 

Chapter 9 : Dewa Api (OST Bondan ft. Fade 2 Black – UNITY)



*Srekkk..... (suara pintu yang terbuka dimalam hari)

Ternyata Nakula baru saja pulang ke rumahnya, nampaknya ruangan itu sangat sepi dan gelap, Nakula menyalakan lampu untuk menerangi ruangan itu, namun tiba-tiba...

“Dia sudah dekat...” (Suara yang tidak dikenali)

“..............” (Nakula tidak memperdulikan suara itu)

“He...he...he... sepertinya kau masih saja mengabaikanku”

“...............”

“suatu saat akan tiba waktunya, dimana kau akan berlutut memohon bantuanku...”

“..............”

Disaat yang bersamaan, didalam gedung Kerajaan, terlihat Patih Bisma berada diruangannya dan sepertinya dia membaca sebuah surat yang ditujukan kepadanya, setelah melihat surat tersebut dengan nada frustasi dia berkata,

“Aku...... aku pasti akan melakukannya...”

“tok...tok...tok” (tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu)

“masuk....” (kata Bisma)

Kemudian orang yang mengetuk pintu itu perlahan memasuki ruangan Bisma, Bisma dengan kaget berkata,

“Kau.......!!!”

Ini adalah Kerajaan Hastina, dimana semua masyarakatnya sangat bahagia, makmur, dan sejahtera. Terlihat di sebuah rumah sakit,

“Nona Veranda, kau boleh pulang besok” (kata perawat yang berada di ruangan itu)

“huum, terima kasih” (jawab Veranda)

Ayah dan ibunya juga berada diruangan itu,

“Mulai besok kau dilarang bertemu dengan dua bocah itu” (kata ayahnya)

“yang Ayahmu bilang itu benar, sebaiknya kau menjaga jarak dengan mereka” (sambung Ibunya)

“Huum...” (sepertinya Veranda merasa sedih)

Sementara itu di Kerajaan Alengka, Yuyutsu sedang membungkuk dihadapan sesorang yang sepertinya mempunyai derajat lebih tinggi,

“Yuyutsu, kenapa kau menghentikan penyerangan di perbatasan?” (tanya orang yang wajahnya belum terlihat)

“itu karena ada Mahluk Surgawi disana yang mulia, terlebih lagi dia adalah yang sudah dikutuk oleh dewa ” (jawab Yuyutsu)

“Apakah kau melukainya?”

“Tidak, yang hamba lakukan hanya memojokkannya”

“hmph... biarlah dia mati karena kutukannya sendiri, tapi yang lebih penting kau harus segera memperkuat benteng pertahanan, karena sepertinya kita akan kedatangan tamu yang tak diundang”

“Baik...”

“Dan Sepertinya Mahluk Surgawi yang kita punya juga harus bersiap untuk menghadapi kutukan itu” (orang itu tersenyum licik)

Suatu hari kemudian, di pagi hari, terlihat Sigma sedang berjalan sambil terus memikirkan orang yang bernama Sadewa itu,  sampai akhirnya dia menyimpulkan sesuatu,

“Jangan... jangan dia....” (terdengar suara bel sekolah, sehingga membuatnya berhenti berfikir)

Sigma melihat sekolah itu, dan melihat beberapa anak yang berlarian karena hampir terlambat,

“SMP ya..., andai aku bisa bersekolah...” (kata Sigma)

“Bilang apa kau, kita memang sekolah tapi sekolah kita bukan disini” (Kata Nakula yang tiba-tiba muncul)

“EEEeeeeeekkkkkkkk..... Nakula” (Teriak Sigma)

“Tutup mulutmu, ini adalah sekolah untuk orang normal, kau kan tidak normal”

“AAAaaaaaaaaa....... -_______-“

Tiba-tiba ada seorang perempuan berpakaian SMP yang berlari karena sudah terlambat masuk sekolah,

“BRRaaakkkkkk..........!!!” (perempuan itu menabrak Sigma dan mereka berdua terjatuh)

Sigma terjatuh tepat dibawah perempuan itu, mata mereka saling berpandangan, wajah Sigma dan perempuan itu pun memerah, karena malu akan kejadian itu perempuan itu segera berdiri,

“maafkan aku” (kata perempuan sambil menunduk)

Kemudian Sigma berdiri, dan berkata dengan suara yang sangat rupawan,

“Tidak nona, seharusnya aku yang meminta maaf...” (Sambil memasang wajah tampan)

“Eeehh....?” (wanita itu bingung)

“Apakah kau terluka nona, maukah kau aku obati...” (Sambil memegang kedua tangan perempuan itu)

“Eehh....”

“Mungkin kejadian ini sudah ditakdirkan..., bahwa kita adalah...................”

#PLAKKKKKKKKKK......................!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!  #Wuueeekkkk........

Perempuan itu menampar Sigma dan dalam sekejap pergi dari hadapannya,

“Ternyata penyakit mu masih belum sembuh juga..., bahkan sekarang lebih parah...” (kata Nakula)

“Ha.... Jangan salah kau, walaupun begini sebenarnya aku adalah orang yang bodoh...” (seru Sigma)

*Ekhhh.... Krik..... krik...... krik.....

“hmph... setidaknya kau mengakuinya...”

“emm... sepertinya aku tadi salah bicara -_-“

“ah sudahlah. ayo berangkat ke sekolah...!!!”

“jadi kau sebut tempat itu sekolah -_- ...”

Di sebuah taman yang luas dan rindang, sepertinya ini digunakan untuk melatih sesuatu,

“ini jelas-jelas berbeda dengan sekolah” (gumam Sigma)

“Diamlah, sekeras apapun kita mencoba, kita tidak mungkin diizinkan masuk ke Sekolah yang kau inginkan tadi” (jelas Nakula)

“Tapi kan, hanya karena kita memiliki kekuatan sihir, bukan berarti kita tidak boleh masuk kesana bukan -_-“

“itulah perbedaan, sudahlah terima saja nasib mu ini”

“-__________-“

~Ini adalah kamp pelatihan sihir dan orang-orang menyebutnya Sekolah Sihir, namun lebih terlihat seperti pelatihan militer bagiku -__-~

“HELOOO... SEMUANYA..., hari ini kita akan belajar memanah” (teriak salah satu Patih yang menjadi guru di pelatihan tersebut)

“Huahhhhhh........ memanah *^_^*” (Sigma yang tadinya kurang bersemangat menjadi senang mendengar hal itu)

“hmph... dasar mata busur” (kata Nakula)

“Diam kau rambut api...!!!” (balas Sigma)

Mereka bedua saling beradu mulut, lalu...

“KALIAN YANG DISANA.......!!!!” (teriak patih tersebut)

“YA.........!!! @_@” (Sigma dan Nakula terkaget)

“KELILING 20 PUTARAN....!!!”

“taa...tapi...”

“CEPAT.............!!!!” (wajah orang itu semakin seram)

“BAIK........!!!!” (Sigma dan Nakula langsung berlalu mengelilingi lapangan)

Akhirnya mereka berdua mengelilingi lapangan selama 20 kali, mereka berdua sangat kelelahan,

“Ini semua hosh....hosh... gara-gara kau” (kata Nakula dengan terengah-engah)

“Ini juga hosh...hosh... salah mu...” (balas Sigma yang sama-sama kelelahan)

“KALIAN BERDUA............!!!!!!!” (patih itu menunjuk mereka)

“YA......!!! @_@”

“Sekarang giliran kalian untuk memanah”

“hehehe... akan kubuktikan kalo aku adalah pemanah terbaik dimuka bumi ini” (kata Sigma)

“hmph...” (acuh Nakula)

Nakula mengambil panah yang sudah disiapkan disana, namun berbeda halnya dengan Sigma, dia tidak mengambil panah untuk mengarahkannya pada target yang ada di depannya.

“HEI KAU...., KENAPA KAU TIDAK MENGAMBIL PANAHMU.....???” (kata patih itu)

“tidak usah repot-repot” (jawab Sigma)

“.........” (Nakula tidak memperdulikannya dan bersiap mengarahkannya pada target)

Patih yang menjadi guru itu pun akhirnya tidak memperdulikan hal itu,

“terserah kau saja, baiklah pada hitungan ketiga...” (kata Patih itu)

Sigma dan Nakula bersiap, terlihat diraut wajah mereka yang sangat serius,

“Oke kita mulai.... satu.......dua.....”

Tiba-tiba Sigma berkata, “Kirti....!!!”

*Woooshhh....!!! terlihat aksara jawa bertuliskan kirti, dan tulisan itu menjadi panah miliknya yang berelemen listrik.

Nakula juga berkata, “Geni...!!!”

“Tiga......tembak.......”

Nakula melepaskan panah miliknya, begitu pula Sigma, dia melepaskan panah listrik miliknya menuju kearah sasaran.

Kemudian *BBOOOOOMMMM.......!!!! panah milik Sigma mengahancurkan target sasaran menjadi berkeping-keping, sedangkan panah milik Nakula menghanguskan target sasaran sampai habis menjadi arang.

 “Hmph, Pemanah terbaik di dunia ya...?” (kata Nakula)

“Api mu menyusahkan seperti biasa” (kata Sigma)

Mereka berdua saling membanggakan diri masing-masing, seakan mereka yakin bahwa diri merekalah yang paling hebat,

“APA YANG KALIAN LAKUKAN...........!!!!” (teriak patih tersebut)

“Aaaaa’  ._. ” (mereka berdua kaget)

“DILARANG MEMANAH MENGGUNAKAN KEKUATAN SIHIR....!!!!”

“Haaa..... ._. ”

“KELILING LAPANGAN 100 KALI....!!!!”

“AAAAA... BAIK......!!!” (mereka langsung berlari dalam sekejap)

Malam harinya, pelatihan juga sudah berakhir, Sigma pulang sendirian dengan terengah-engah karena kehabisan tenaga,

“Dasar patih, katanya pelatihan sihir, kenapa tidak boleh memakai sihir” (gumam Sigma)

Tiba-tiba ada suara orang berteriak,

“SIAPA SAJA TANGKAP DIA, DIA MENCURI BERKAS PENTING KERAJAAN” (teriak orang itu)

Sigma melihat orang yang memakai jubah berlari sangat cepat melewati atap-atap rumah, seperti melarikan diri dari sesuatu.

 “pencuri....???” (gumam Sigma)

Tak lama kemudian datanglah Patih Suwanda yang mendekati Sigma, nampaknya Suwanda keleahan karena berlari,

“Hey Sigma hosh...hosh...” (kata Suwanda)

“Paman Suwanda...” (kaget Sigma)

“Bisakah kau mengejar dia hosh..., dia adalah salah satu Dasamuka yang menyusup ke Kerajaan”

“Apa....”

“Jika dia sampai membawa kabur berkas penting kerajaan, tamatlah sudah”

“Baiklah, serahkan saja semuanya padaku”

Sigma melompat dan mengejar orang itu, setelah melihat orang yang sedang dia kejar, dia berkata,

“Kirti....!!!” *WOOSSSHHH.... Aksara jawa berubah menjadi panah miliknya.

“Takkan kubiarkan kau kabur, heeyaaa...!!!” (teriak Sigma)

Sigma melepaskan tembakan kearah orang itu, namun orang itu berhasil menghindarinya, lagi dan lagi Sigma menembakinya, namun semua sama saja karena orang itu bisa menghindari semua serangan Sigma.

Akhirnya orang itu berhenti ketika dia menemui jalan buntu, Sigma yang mengetahui hal itu tidak menyia-nyiakan kesempatan untuk berusaha memojokkanya dengan menggunakan panahnya,

“Kau tidak bisa lari lagi...!!!” (kata Sigma sambil mengacungkan panahnya kearah orang itu)

Orang yang terpojok itu akhirnya tersungkur ke tanah, dia tidak punya pilihan lagi selain pasrah dengan keadaan, namun tiba-tiba orang itu membuka jubah yang menutupi wajahnya, *brrughh....

Sigma sangat kaget ketika melihat wajah orang itu, dia berkata,

“kau.....Kau perempuan yang tadi pagi menabrakku....”




Chapter 9 ---END---

(End Superman Is Dead – Jika Kami Bersama)





 Dasamuka Female

(Art By Salam Nobodyknows)


================================================================================

Chapter 10 : Serangan Kombinasi (OST Bondan ft. Fade 2 Black – UNITY)


“Kau perempuan yang tadi pagi menabrakku...” (Sigma terkejut)

Siapa sangka orang itu adalah perempuan yang menabraknya tadi pagi, terlebih lagi dia masih memakai seragam sekolah”

“iya itu benar....” (jawab perempuan itu)

“Tapi mereka bilang kau adalah Dasamuka...” (perlahan Panah yang Sigma arahkan kepadanya mulai goyah)

“itu tidak benar, aku baru saja pulang dari sekolah tapi orang-orang mengejarku...” (perempuan itu sedikit menangis)

“Ohhh....jadi begitu...maafkan aku...” (*Woshhh, Panah Kirti milik Sigma menghilang)

“Aku benci mereka....hiks hiks...” (perempuan itu menangis dihadapan Sigma sambil menutup wajah dengan kedua tangannya)

Sigma merasa sangat kasihan kepadanya, kemudian dia berniat untuk menolongnya,

“ehem....rumahmu dimana nona...?” (Wajah Sigma berganti ke mode tamfan dan berani)

“Tidak jauh dari sini hiks...hiks...”

“kalo begitu... ayo kuantar pulang...” (kata Sigma sambil tersenyum menjulurkan tangannya)

“huum....” (dalam sekejap perempuan itu berhenti menangis)

Dan sepertinya perempuan itu akan dengan senang hati menyambut tangan Sigma, namun sesaat sebelum dia menyambutnya, tiba-tiba saja,

“Selamat tinggal....!!!” (geram perempuan itu sambil mengarahkan pisau kearah Sigma)

Sigma yang kaget dengan hal itu, sudah tidak bisa menghindar lagi dan berfikir akan mati, namun dalam sekejap Nakula datang dan menangkis pisau itu dengan tangan kanannya yang berselimut api.

“Sebaiknya kau belajar untuk tidak mempercayai orang lain...” (kata Nakula)

“Nakula...!!!” (teriak Sigma)

Setelah menangkisnya, Nakula melemparkan perempuan itu hingga menabrak pagar dan jatuh ke tanah, perempuan itu merasa kesakitan,

“Kau...., mengganggu urusanku...” (suara perempuan itu berubah)

“hmph... aku memang suka mengganggu orang lain...” (jawab Nakula)

“ini tidak mungkin...” (Sigma masih belum percaya)

“hei apa yang kau tunggu Sigma, cepat kita selesaikan ini...!!!” (perintah Nakula)

“Siall....Kirti...!!!” (*woshhh panahnya muncul...)

Nakula mengarahkan apinya namun perempuan itu bisa menghindar, justru sebaliknya Nakula terkena pukulan perempuan itu, Sigma berusaha menyerang dengan panahnya namun sepertinya serangannya sangat lemah tidak seperti biasanya,

“Kau kenapa....???” (tanya Nakula)

“Sialll....” (Sigma tidak menghiraukan Nakula)

Perempuan itu menyerang Sigma, dan Sigma menahannya dengan panahnya, melihat hal itu dengan cepat Nakula menembakkan bola-bola api kearahnya, namun sekali lagi perempuan itu berhasil menghindarinya,

“Gerakannya sangat cepat, kita perlu rencana...” (kata Nakula)

“terserah kau saja.....” (kata Sigma)

“kalian tidak mungkin bisa mengalahkanku” (teriak perempuan itu)

Sigma maju menyerang, kali ini dia mengarahkannya ke atap rumah, atap itu pun roboh dan mengenai perempuan itu,

“Geni....!!!” (teriak Nakula)

Tak lama kemudian api berkobar melingkari perempuan itu, di saat itu juga perempuan itu berusaha untuk keluar dari puing-puing atap rumah yang roboh,

“Sekarang Sigma, habisi dia....!!!” (seru Nakula)

Sigma terbang, dan bersiap untuk melakukan serangan penghabisan dengan Kirti nya, namun setelah dilihat lagi nampaknya Sigma ragu-ragu untuk membunuh perempuan tersebut, perempuan itu pun akhirnya bangkit dan terbang untuk menyerang Sigma, melihat hal itu Nakula pun berusaha menolongnya.

Sesaat sebelum perempuan itu menyerang Sigma yang sedang lengah, Nakula menjulurkan tangan kirinya ke wajah perempuan itu, dia pun berkata,

“Enyahlah...!!!

*BOOOMMMMM.......!!!!!

Apinya membakar wajah perempuan itu, dan seketika langsung melumpuhkannya, hujan akhirnya turun untuk memadamkan sisa-sisa api yang masih terbakar, disaat itu juga Sigma dan Nakula terdiam beberapa saat sambil memandangi titik-titik hujan yang membasahi tubuh mereka.

“Akuu....Akuuu....” (gumam Sigma)

“kau tahu...suatu hari nanti kau pasti akan mengalami, dimana teman mu akan menghianati dirimu sendiri” (tegas Nakula)

“hm......”

Nakula mengambil sebuah kotak, dimana kotak itu merupakan benda yang dicuri perempuan tadi, setelah mengambilnya dia berjalan kearah Sigma dan berkata,

“Ini, berikan kembali kepada para Patih...” (Nakula memberi Sigma sebuah kotak berisi berkas kerajaan)

“kau.... mau kemana...?”

“itu bukan urusanmu...” (Nakula pergi meninggalkan Sigma)

“...............” (Sigma hanya terdiam melihat perginya Nakula)

Sesaat setelah kejadian itu, ada suara langkah kaki seseorang yang datang mendekat, tak lama kemudian orang itu berkata,

“Kau memang harus mengorbankan segalanya untuk mencapai tujuanmu, bukan begitu..?”

“ha....., Patih Suwanda....???” (tanya Sigma) ~ternyata orang itu adalah Suwanda~

“Melihat mu begini, sepertinya kau telah merasa kehilangan...”

“Aku....hanya.....”

“Apakah perempuan yang kau lawan itu temanmu...?”

“Tidak, aku baru saja bertemu dengan dia... dan tidak menyangka kalo dia adalah....”

“Apa dia sangat berarti bagimu....?”

“Kalo itu....”

“Kau menganggap orang yang baru kau kenal adalah orang yang sangat berharga...”

“..........”

“Lalu bagaimana dengan Nakula yang sudah kau kenal sejak dulu? Apa dia tidak berharga untukmu....?

“..........”

“Mungkin kelemahan juga menjadi pengaruhnya....”

“Tidak..., aku... aku tidak lemah, AKU AKAN MENJADI LEBIH KUAT...!!!” (teriak Sigma sambil menghadap langit yang hujan)

Suara Sigma yang menggema bercampur dengan hujan yang turun seperti tangisan dalam hatinya, langit yang gelap, udara yang pengap, ketangguhan hati yang retak akibat kebimbangan, menangis dan terus menangis. Namun tak disangka dari langit yang hujan itu, dari kejauhan berdiri dua orang yang sedang mengawasi dengan seksama kerajaan Hastina.





Chapter 10 ---END---

(End Superman Is Dead – Jika Kami Bersama)


================================================================================

Chapter 11 : Peringatan (OST Bondan ft. Fade 2 Black – UNITY)


Di Gedung kerajaan, tempat dimana Prabu Pandu berada, dia sedang duduk memperhatikan Kerajaan nya, namun dilain sisi dia juga merasa gelisah dengan sesuatu.

“Aku harap mereka baik-baik saja” (gumam nya)

Di gerbang masuk kerajaan, terdapat setidaknya 5 patih yang akan bersiap untuk melakukan perjalanan, dimana perjalanan itu diketuai oleh Patih Bisma. Seperti yang sudah diberitahukan, mereka semua akan pergi ke Kerajaan Alengka untuk mempererat hubungan kedua Kerajaan dan juga melihat keadaan Sadewa Barata disana.

Disamping mereka terdapat mobil kerajaan, mobil kerajaan itu justru berbentuk seperti mobil yang sangat kuno, meskipun demikian yang boleh memakai mobil itu hanyalah orang-orang yang bertugas di dalam pemerintahan seperti patih, Selir, dll.

“Hati-hati dijalan” (kata seorang petugas yang berjaga di pintu gerbang)

“Kita pasti akan segera kembali...” (kata Bisma)

5 patih itu pun masuk ke mobil dan pergi untuk menuju ke Kerajaan Alengka.

Di jalan yang ramai, Sigma senang duduk sambil menikmati minuman kaleng yang dia beli,

“Sigma....” (Suara seorang perempuan yang sangat familiar memanggilnya)

“Veranda...” (KagetSigma)

“Lagi-lagi kau sedang melamun, ngelamunin apa sih...?” (Veranda duduk di sebelah Sigma)

“Menurutmu..., apa semua Dasamuka harus dimusnahkan...?”

“Itu sudah jelaskan..., mereka hanya perusak, menjarah kerajaan lain tanpa belas kasihan, yang mereka lakukan hanya membunuh dan terus membunuh...”

“Tapi bagaimana jika salah satu Dasamuka itu adalah temanmu, apakah kau juga akan membunuhnya...?”

“Itu.....” (Veranda terdiam)

Setelah terdiam beberapa saat, Veranda menegaskan kembali perkataannya,

“Itu tidak mungkin terjadi...!!!” (tegas Veranda)

“..........”

“Tidak ada satu orang pun yang ingin menjadi teman mereka...!!!, benarkan...?”

“kemarin aku dan Nakula bertarung dengan salah satu Dasamuka yang menyusup ke Kerajaan, dan....” (Sigma terdiam sejenak)

“..........” (Veranda bingung melihatnya)

“Aku tidak tahu apa yang menggangguku, tapi aku sama sekali tidak sanggup membunuhnya....”

“Emmm... mungkin itulah Sifatmu” (Veranda tersenyum)

“Sifatku....?”

“Huum..., kau itu baik terhadap semua orang, bahkan musuhmu sendiri...” (lanjut Veranda)

Mendengar apa yang Veranda katakan, membuat Sigma sangat senang dan juga terharu, karena terlalu bahagia mendengarkan perkataan itu, Sigma berteriak...

“hiks hiks... VERANDA......!!!! *_* ” (Sambil menyosorkan tubuhnya untuk memeluk Veranda)

Sesaat sebelum Sigma memeluknya, sambil tersenyum tiba-tiba Veranda mengeluarkan tongkat Srikandi nya untuk memukul Sigma sampai jatuh ketanah dengan kepala benjol.

“Walaupun penyakitmu itu perlu disembuhkan juga...” (kata Veranda sambil tersenyum)

“ADUH SAKITT.... KENAPA KAU MEMUKULKU....???” (teriak Sigma)

“itu sudah menjadi gerakan reflek para perempuan...^_^”

“Apa yang kalian ributkan...? (kata Nakula yang tiba-tiba ada disamping mereka dan sedang berdiri sambil meminum minuman)

“hmm... Nakula ya...? aku pergi saja deh....” (kata Sigma)

“apakah kau masih memikirkan kejadian kemarin...?” (tanya Nakula)

“................”

“itu terserah kau saja, tapi tadi pagi ada 5 patih yang berangkat menuju Kerajaan Alengka”

“Ha....!!!” (Kaget Sigma dan Veranda)

“Tampaknya mereka ingin menyelidiki orang yang kemarin kita lawan”

“Maksudmu Yuyutsu...?” (tanya Sigma)

“Mungkin saja, tapi yang jelas ini.... adalah hal yang buruk...”

Kerajaan Alengka merupakan kerajaan yang sangat megah sama seperti Hastina, namun bedanya Kerajaan Alengka dipenuhi dengan candi-candi yang tak terhitung jumlahnya, dan banyak taman bersisikan bunga-bunga yang sangat indah.

Kerajaan Alengka dipimpin oleh seorang Narpati, dan semenjak Narpati mereka berganti, masyarakat hidup dalam kemakmuran dan hampir tidak ada kemiskinan disana, bahkan saking makmurnya, seluruh rumah masyarakatnya terbuat dari emas dan tinggi menjulang.

Siang itu rombongan Patih Bisma sudah tiba di depan gerbang kerajaan Alengka, hal itu pun disambut baik oleh Kerajaan Alengka, terutama Yuyutsu yang sudah menunggu mereka didepan gerbang.

“Selamat datang di Kerajaan Alengka, saya harap perjalanan anda tadi menyenangkan” (Kata Yuyutsu dengan penuh senyuman)

“Hemm... terima kasih sudah menyambut kami” (Kata Bisma)

“Tidak... kami juga terima kasih, kalian sudah jauh-jauh datang kemari... ^_^”

“Tujuan kami kesini untuk bertemu Narpati Kerajaan Alengka, dan juga ingin melihat keadaan Sadewa Barata” (Jelas Bisma)

“Tentu saja dengan senang hati ^_^... Tapi....”

Tiba-tiba saja wajah Yuyutsu berubah, dengan suara yang sangat seram di berkata,

“KALIAN HARUS AKU MUSNAHKAN TELEBIH DAHULU....!!!”

#Ha...Apa-apaan ini....AAAAARRRRRRRRRGGGGGGHHHHHHHH................!!!!!!!!!!!”

Burung-burung berterbangan ke langit menunjukkan adanya sesuatu yang mengagetkan mereka, seperti sesuatu yang mengerikan sedang terjadi. Suara teriakan itu pun semakin pudar dari kejauhan dan tidak terdengar lagi.

“Sesuatu yang buruk? Apa Maksudmu Nakula?” (tanya Sigma)

“Hubungan kita dengan Alengka sudah tidak seperti dulu lagi...” (jawab Nakula)

“..............”

“Dulu sejak Narpati Kubera memimpin Alengka, hubungan Kerajaan Hastina dan Alengka sangat baik, bahkan Narpati Kubera sering berkunjung ke Hastina untuk makan bersama dengan Prabu Pandu dan membicarakan hal-hal politik di Kerajaan nya masing-masing, Narpati Kubera menganggap bahwa Hastina dan Alengka adalah Kerajaan Saudara”

“Saudara....?”

“Namun semenjak Narpati Kubera wafat, hubungan Hastina dan Alengka semakin memburuk, terlebih lagi setelah mereka menetapkan Narpati baru untuk memimpin Alengka, hubungan yang sudah terjalin cukup lama itu hilang begitu saja”        

“Lalu siapa Narpati yang baru itu?”

“Hmph... mana kutahu.., dan mungkin Prabu Pandu pun tidak tahu siapa dia...”

“Emmm... anu... Nakula..., apakah menurutmu 5 patih itu baik-baik saja sekarang?” (tanya Veranda)

“Sulit untuk menjawabnya...” (Jawab Nakula)

Setelah mendengar yang dikatakan Nakula, Veranda memegang kedua tangannya sendiri dan berkata,

“Kuharap mereka baik-baik saja...”

“ Aku juga berharap begitu...” (Kata Nakula sambil melemparkan minuman kaleng yang dia minum ke tempat Sampah)

Disaat yang sama, di gerbang Kerajaan Hastina terlihat mobil kerajaan berjalan dengan sangat cepat dan hilang kendali, seperti terjadi sesuatu dengan sang pengemudinya. Mobil itu akhirnya menabrak pembatas yang berada tepat di gerbang Kerajaan, tak lama kemudian seorang Patih keluar dari dalam mobil itu, ternyata dia adalah Patih Bisma, dia berjalan dengan terhuyung dan sambil memegang luka yang ada di lengan kirinya.

Setelah melihat itu, orang-orang yang bertugas di gerbang Kerajaan langsung menolongnya, Suwanda dan Gandamana yang melihat kejadian itu juga langsung menolongnya,

“Bisma...,APA YANG TERJADI DENGANMU....???” (Seru Gandamana)

“Bisma bertahanlah....!!!” (Seru Suwanda)

Bisma melihat kearah mereka berdua, dengan terhuyung-huyung dan tubuh yang penuh luka, Bisma berkata,

“Alengka... sudah...uhuk... menghianati kita..., tak lama lagi....uhuk... Dasamuka akan menyerang tempat ini...”

Setelah mengatakan itu Bisma tak sadarkan diri,

“Bisma...!!!, Bisma...!!!, Bisma...!!!” (teriak orang yang ada disana)

 Bisma art by Anggra



Chapter 11 ---END---

(End Superman Is Dead – Jika Kami Bersama)



================================================================================

Chapter 12 : Pertempuran dengan Dasamuka (OST Bondan ft. Fade 2 Black – UNITY)

Begitu sadar Bisma sudah berada di rumah sakit,

“Errghh....” (Bisma mencoba untuk bangun)

“Sebaiknya kau istirahat dulu...” (Kata seseorang yang sangat familiar)

“Prabu Pandu...???” (Kaget Bisma)

“Akan tetapi, tak kusangka Alengka akan melakukan ini kepada Hastina, mereka juga berani membunuh 4 patih terbaik kita...” (lanjut Prabu Pandu)

“..............”

“Mereka seperti ingin menyatakan perang terhadap Hastina...”

“Perang....???”

“Sepertinya aku memang tidak bisa memandang Alengka seperti dulu lagi, dan ini adalah kesalahanku karena terlalu mempercayai mereka”

“Yang mulia..., seharusnya akulah yang.....”

“Kau tidak perlu menyalahkan dirimu, hanya dengan melihatmu selamat itu sudah cukup bagiku...”

“Lalu dimana Patih yang lainnya Yang Mulia...?”

“Mereka sedang bertempur melawan Dasamuka.....”

Hari itu setelah Bisma keluar dari mobil dan tak sadarkan diri, Sigma, Nakula dan Veranda kaget karena mendengar bunyi benturan yang sangat keras dan asap yang menyebar,

“Suara apa itu....???” (Kaget Sigma)

“Sepertinya sesuatu terjadi digerbang...” (Kata Nakula)

“Ayo kesana...!!!” (lanjut Sigma)

Sigma, Nakula, dan Veranda bergegas menuju gerbang Kerajaan, setelah sampai disana, mereka melihat Patih Bisma yang sedang tak sadarkan diri, setelah melihat kejadian itu, Sigma langsung bertanya kepada Patih Gandamana yang ternyata ada di tempat itu

“Patih Gandamana, apa yang sebenarnya terjadi...?” (Tanya Sigma)

“Sebaiknya kalian berlindung, karena sebentar lagi kita akan melawan para Dasamuka” (jawab Gandamana)

“Dasamuka....??”

“Ya..., sepertinya kunjungan 5 Patih kita ke Kerajaan Alengka tidak disambut baik oleh mereka, dan sepertinya hanya Bisma lah yang selamat dari maut itu”

“Aapaa.....???”

“Sebaiknya kalian mencari tempat yang aman, karena tempat ini......”

“kami akan melawan Dasamuka....” (potong Nakula)

“Mungkin untuk kali ini, biarlah para Patih saja yang....”

“Kami BUKANLAH ANAK KECIL lagi...., kami akan menghentikan mereka semua...!!!” (tegas Sigma)

Melihat keyakinan yang sangat besar pada diri Sigma dan Nakula, akhirnya patih Gandamana mengizinkan mereka untuk melawan Dasamuka,

“Baiklah tapi kalian harus tetap berada didekatku...!!!” (perintah Gandamana)

“Serahkan saja pada kami, bukan begitu Veranda...?” (tanya Sigma)

“MMmmm... maaf Sigma, Nakula... aku tidak bisa ikut dengan kalian, aku tidak ingin membawa masalah pada kalian semua, jadi lebih baik aku tidak perlu ikut...” (terang Veranda)

“Ehh... kenapa...?”

“Maafkan aku....” (Veranda pergi dari hadapan Sigma dan Nakula)

~Maafkan aku Sigma, Nakula..., aku sudah berjanji untuk tidak bertarung bersama kalian lagi~ (kata Veranda dalam hatinya)

“Veranda... kenapa dia...?”

“Tanpa bantuan dari Veranda pun, aku yakin kita pasti bisa mengalahkan mereka” (kata Nakula)

“Ehmm... itu sudah pasti kan...” (Kata Sigma dengan percaya diri)

Akhirnya sekitar 10 orang Patih termasuk Gandamana dan Suwanda, ditambah Sigma dan Nakula pergi ke perbatasan Hastina menggunakan mobil kerajaan untuk menghentikan upaya Dasamuka. Setelah sampai diperbatasan dan bertemu dengan sekitar 30 orang Dasamuka,

“Heh... Ayo selesaikan ini.... Kirti.....!!!” (Kata Sigma)

#WOOSSHH..., huruf jawa bertuliskan Kirti muncul dan membentuk Panah di tangan kirinya.

“Geni...!!!” (Kata Nakula)

#BLURBLUR..., sebuah huruf jawa bertuliskan Geni ditangan Nakula muncul dan membentuk api.

“Garu...!!!” (Kata Gandamana)

#DUOOMMM... Sebuah huruf jawa bertuliskan Garu muncul dan menjadi pedang yang sangat besar milik Gandamana.

“Sula....!!!”

#WIISSSHH... Muncul pedang milik Suwanda yang dapat mengeluarkan kekuatan angin.

Namun, Patih yang lain hanya menggunakan pedang biasa, karena mereka belum memiliki Senjata Suci, seperti hal nya Nakula yang hanya bisa mengeluarkan api, karena dia belum mempunyai senjata suci.

Tak lama kemudian, para Dasamuka langsung menyerang mereka, melihat kejadian itu Sigma langsung melesatkan panah miliknya kearah Dasamuka, dan Nakula membakar mereka semua dengan api nya, sedangka para Patih menggunakan Pedang mereka untuk melawan Dasamuka. Pertempuran yang sangat seru tersajikan disana, dimana Sigma menggunakan Kirtinya untuk menangkis serangan Dasamuka, dan Nakula membakar wajah Dasamuka satu persatu. Pedang besar milik Gandamana dapat meretakkan tanah disekitarnya, dan Pedang milik Suwanda dapat mengeluarkan angin puting beliung untuk menghancurkan para Dasamuka.

“Mereka ternyata masih lemah seperti dulu hehe....” (kata Sigma)

“Hentikan ocehan mu dan cepat kalahkan mereka semua...!!!” (tegas Nakula)

Di pertempuran yang panjang itu, akhirnya tersisa 5 Dasamuka, dimana sepertinya mereka adalah yang paling kuat dari Dasamuka lainnya.

“Sepertinya ini adalah akhir untuk kalian...” (kata Gandamana)

“Ayo selesaikan ini Gandamana...!!!” (Seru Suwanda)

Karena terpojok, akhirnya para Dasamuka itu menyatukan pedang mereka menjadi satu, dan akhirnya muncul lah cahaya yang sangat terang menyelimuti tempat itu, Sigma dan lainnya menutupi mata mereka karena cahaya itu terlalu terang untuk dilihat.

“AAAaarrghh...., apa ini...???” (Teriak Sigma)

“Semuanya...., tetap konsentrasi, jangan sampai lengah...!!!” (Perintah Gandamana)

Disaat terang nya sinar itu yang menyilaukan mata mereka, tiba-tiba ada sesuatu yang bergerak sangat cepat, dan mendekati mereka.

“Arrghhhhhhh...............!!!!” (terdengar teriakan para Patih dimana-mana, menunjukkan mereka telah terserang oleh sesuatu)

“Semuanya..., TETAP TENANG.......!!!” (Seru Gandamana)

“Arrrghh...........!!!!” (Suara teriakan Sigma)

Mendengar hal itu Suwanda langsung kaget dan berkata,

“Sigma...!!!, kenapa kau...?? Aarrrghhh.......!!!” (Terdengar teriakan Suwanda)

Mendengar suara teriakkan dimana-mana membuat Gandamana geram, akhirnya dengan pedang besarnya, dia mengarahkan pedangtersebut ke tanah,

#BBOOOWWWHHHHHH...........!!!!!!!!!!

Tanah itu pun retak dan menjalar ke seluruh bagian, tak lama kemudian sinar itu mulai redup dan akhirnya menghilang.

Setelah Gandamana melihat ke sekelilingnya, ternyata banyak para Patih yang sudah tersungkur lemas dan tak berdaya akibat serangan yang dilakukan para Dasamuka tadi, Sigma dan Nakula juga mengalami hal yang sma.

Sigma dan Nakula yang terjatuh berusaha berdiri kembali, namun sepertinya itu sulit bagi mereka,

“SIALL... hosh...hosh...” (kata Sigma dengan nada yang kelelahan)

“Sepertinya yang ini sulit dikalahkan...hosh...hosh...” (kata Nakula dengan nada yang kelelahan juga)

5 Dasamuka yang melihat Gandamana lengah karena sedang kaget dengan sekelilingnya, akhirnya mengambil keuntungan. Mereka menyerang Gandamana dengan membabi-buta sehingga Gandamana terluka parah dan tersungkur ke tanah.

Setelah tersungkur, salah satu dari Dasamuka itu mendekatinya dan bersiap untuk menghabisinya, ketika Gandamana sudah merasakan ajalnya semakin mendekat, dan tak ada yang dapat menolongnya .

Tiba-tiba saja, muncul penghalang berwarna hijau melingkari mereka semua yang sedang tersungkur di tanah, hal itu membuat Dasamuka yang tadinya akan menghabisi Gandamana menjadi tak dapat dapat menyerang mereka. Tak lama kemudian, tiba-tiba saja tenaga mereka pulih kembali seperti sedia kala, Sigma dan Nakula yang mengetahui akhirnya berkata,

“Jangan-jangan ini adalah....” (kejut Sigma sambil melihat keseluruh badannya)

“Veranda....” (Jelas Nakula)

Ternyata Veranda tiba-tiba muncul dan melakukan itu semua, dia berada di belakang bersembunyi dibalik mobil-mobil kerajaan yang di pakai para Patih untuk datang ke tempat tersebut.

5 Dasamuka yang mengetahui hal itu adalah ulah Veranda, langsung menetapkan Veranda sebagai target utama mereka, dan balik menyerangnya. Namun sesaat sebelum mereka menyerang Veranda, dalam sekejap Sigma dan Nakula menangkis serangan tersebut, akhirnya 5 Dasamuka itu pun terpojok karena didepan mereka ada Sigma dan Nakula, dan di belakang mereka ada Gandamana, Suwanda serta patih lainnya yang sudah siap menghabisi mereka.

“Hehehe... Pertarungan baru saja dimulai....!!!” (Seru Sigma dengan percaya diri)



Chapter 12 ---END---

(End Superman Is Dead – Jika Kami Bersama)

Sigma art by Salam Nobodyknows

Baca Kelanjutannya di VOLUME 2



2 komentar: